Articles by "Agenda"
Showing posts with label Agenda. Show all posts
Teater Koma
Produksi ke-124

ANTIGONEO
"Patutkah kesejahteraan ekonomi menggusur hati nurani?"

7 s.d. 16 Oktober 2011
Gedung Kesenian Jakarta
Setiap 20.00 WIB







Saduran dari ANTIGONE NOW karya Evald Flisar (Slovenia) yang juga merupakan versi modern dari ANTIGONE karya Sophocles. Lakon ini juga merupakan debut penyutradaraan bagi Rangga Riantiarno.

Alkisah, sebuah kota di ambang kehancuran ekonomi. Satu-satunya harapan adalah pembangunan hotel, kasino dan lapangan golf. Lalu, bahkan kompleks pemakaman pun digusur.

Masalahnya, satu kuburan tetap bertahan. Keponakan walikota tidak sudi makam adiknya dibongkar. Walikota berada dalam posisi sulit. Patutkah kesejahteraan ekonomi menggusur hati nurani?

Untuk mempertahankan nuansa sunyi dalam lakon ANTIGONEO ini, dengan hormat kami memohon para penonton untuk tidak memotret selama pertunjukan berlangsung, kecuali pada gladi resik (Kamis, 6 Oktober 2011). Tapi, seusai pentas, silakan foto sepuasnya (bersama pemain juga diperbolehkan).

PEMAIN:
N. Riantiarno - Budi Ros - Cornelia Agatha - Salim Bungsu - Dudung Hadi - Ratna Riantiarno - Sriyatun Legiowati - Tuti Hartati - Adri Prasetyo - Pandoyo Adi Nugroho

HTM:
Weekend (Jumat dan Sabtu) Rp. 200.000 � Rp. 150.000 � Rp. 100.000 � Balkon Rp. 75.000
Weekday (Minggu-Kamis) Rp. 150.000 � Rp. 100.000 � Rp. 75.000 � Balkon Rp. 50.000

INFORMASI TIKET:
Tidak menerima pemesanan tiket via SMS, email, YM, FB, Twitter ataupun jalur maya lainnya.
* Bintaro - 0217350460; 0217359540; Ina 081398818586 - Jl. Cempaka Raya No. 15, Bintaro
* Setiabudi - 02170282344; 0215224058; 0215251066; Rini 08561112916 - Jl. Setiabudi Barat No. 4, Jakarta Selatan
* Gedung Kesenian Jakarta - 0213808283; 0213441892; 02196693433; Roelly 085715911169 - Catatan: Hari Minggu dan Senin GKJ libur

CARA PEMBAYARAN:
* Tunai di Bintaro, Setiabudi atau Gedung Kesenian Jakarta (sesuai tempat pemesanan)
* Transfer via Teater Koma: BCA a/n Ratna Karya Riantiarno (bukti transfer wajib di-fax)

Denah tempat duduk ukuran asli bisa dilihat di sini.









Teater Koma
Produksi ke-120
RUMAH PASIR
Teater Salihara
29 Oktober s/d 7 November 2010
20.00 WIB s/d selesai

HTM:
Rp. 100.000 (umum)
Rp. 50.000 (pelajar, terbatas, hanya di Salihara)

Telepon:
Bintaro - 7350460, 7359540, Amy 085692727509
Setiabudi - 5224058, 5251066, Suntea 08161190953, 0818990579
Salihara - 7891202, 7805180, Dita 081281845500

Catatan:
Hanya via telpon langsung.
Tidak menerima pesanan via SMS, e-mail,
FB, YM, Twitter ataupun jalur dunia maya lainnya.


Alamat Komunitas Salihara:
Jl. Salihara No. 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan


SINOPSIS

Inilah kisah tentang seorang pengusaha muda petualang cinta. Gaya hidupnya bebas, khas metropolitan. Dia terlibat asmara dengan banyak wanita. Dia tidak pernah memikirkan akibatnya, baik terhadap dirinya ataupun orang lain.

Penyesalan selalu datang terlambat. Hidup bisa berubah, cukup dengan satu perbuatan beresiko. Bagi mereka, yang menanggung akibat perbuatan mereka sendiri, hidup bagaikan sebuah rumah pasir. Setiap saat bisa tersapu ombak, hilang tak berbekas. Masihkah ada harapan?

TEATER KOMA memanggungkan RUMAH PASIR, sebuah lakon HIV/AIDS, sebagai produksi ke-120, di Teater Salihara, Jakarta.


Naskah dan Sutradara
N. RIANTIARNO

Asisten Sutradara
OHAN ADIPUTRA

Skenografi
TAUFAN S. CHANDRANEGARA

Penata Musik
FERRO

Penata Cahaya
DERAY

Penata Rias dan Rambut
SENA SUKARYA

Penata Busana
ALEX FATAHILLAH

Konsultan Akustik
TOTOM KODRAT

Pengarah Tehnik
TINTON PRIANGGORO

Pimpinan Panggung
SARI MADJID

Pimpinan Produksi
RATNA RIANTIARNO

Sekretariat
RANGGA



PARA PEMERAN

BUDI ROS, CORNELIA AGATHA, RATNA RIANTIARNO, PRIJO S. WINARDI,
TUTI HARTATI, RANGGA RIANTIARNO, NAOMI LUMBAN GAOL, DLL.
PEMESANAN TIKET "REPUBLIK PETRUK" TEATER KOMA DIBUKA 1 DESEMBER 2008
REPUBLIK PETRUK Poster
(Klik gambar untuk ukuran lebih besar)

Informasi Pemesanan Tiket:
Jl. Cempaka Raya No. 15 Bintaro - Jakarta Selatan 12330
Telp 021-735 0460 Telp/Fax 021-735 9540

Jl. Setiabudi Barat No. 4 - Jakarta Selatan
Telp 021 525 1066 Telp/Fax 522 4058 ; 529 63603

HTM :
Rp 100.000 ; Rp 75.000 ; Rp 50.000; Rp 30.000

TEMPAT PEMENTASAN:
Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (GBB-TIM)
Jl. Cikini Raya no. 73 Jakarta Pusat

TANGGAL:
9 � 25 JANUARI 2009, pukul 19.30 WIB
(Setiap Senin Libur
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

RINGKAS KISAH REPUBLIK PETRUK

REPUBLIK PETRUK, adalah produksi TEATER KOMA ke � 116. Lakon ini
merupakan Trilogi Ketiga dari serial KISAH-KISAH REPUBLIK. Trilogi
Pertama; REPUBLIK BAGONG, dipentaskan sebagai produki ke - 95 di Graha
Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, April hingga Mei 2001. Trilogi
Kedua; REPUBLIK TOGOG, digelar sebagai produksi ke � 103, di Gedung
Kesenian Jakarta, Juli hingga Agustus 2004.

Kisah bermula, saat Mustakaweni berhasil mencuri Jimat Kalimasada,
Pusaka Pandawa, dengan cara menyamar sebagai Gatotkaca. Srikandi,
perempuan pahlawan itu, tak mampu merebut Kalimasada. Pada saat
bersamaan, datang satria bagus bernama Priambada. Dia sedang mencari
ayahnya, Arjuna. Srikandi sedia menolong dengan syarat: Sang Satria
harus merebut kembali Jimat Kalimasada. Priambada bersedia. Maka
terjadilah perebutan yang asyik dan seru. Mustakaweni ternyata jatuh
hati dan membiarkan Priambada merebut Jimat Kalimasada, meski tetap
pura-pura melawan. Karena kerepotan, Priambada menitipkan Jimat
Kalimasada kepada Petruk.

Alkisah, ada dua dewa; Kaladurgi dan Kanekaratena, yang memprovokasi
agar Petruk memanfaatkan tuah Jimat Kalimasada. "Titipan harus
dimaksimalkan, kekuasaan di depan mata, peluang tak bakal datang dua
kali." Akhirnya Petruk tergoda. Dan berkat tuah jimat Kalimasada,
Petruk berhasil menaklukkan Kerajaan Lojitengara. Lalu dia diangkat
jadi Raja dengan gelar Prabu Belgeduwelbeh.

Maka, terjadilah reformasi politik. Apa saja diperbolehkan. Korupsi,
asal tidak ketahuan, oke-oke saja. Dengan lantang Petruk berkata;
"Demokrasi yang kureformasi adalah SBY; Serba Boleh Ye.."

Lojitengara makmur, pejabat takut korupsi. Para polisi bersikap baik,
dedikatif. KKN dan berbagai penyelewengan, atas nama demokrasi, memang
marak tapi terkendali. Prabu Belgeduwelbeh santai saja. Malah dia
banyak makan, banyak bernyanyi dan banyak menari. Raja-raja lain yang
merasa terganggu dan menyerbu Lojitengara lalu dikalahkan, tidak
diperbudak oleh Petruk Belgeduwelbeh, melainkan diangkat sebagai
saudara dan direkrut jadi sekutu.

Siapa mampu menggantikan Petruk Belgeduwelbeh? Sebab, nampaknya,
kondisi `Serba Boleh Ye' itu, masih terus berlangsung.

------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

Regards,
Paulus Simangunsong

KENAPA LEONARDO?


PRODUKSI ke-112 TEATER KOMA, 2008

�KENAPA LEONARDO?�
Karya EVALD FLISAR
Alih Bahasa RANGGA RIANTIARNO
Sutradara N. RIANTIARNO

TEMPAT:
Graha Bhakti Budaya, Taman Ismil Marzuki (GBB - TIM)
Jl. Cikini Raya no.73 Jakpus

TANGGAL: 11�25 JANUARI 2008, setiap pkl 19.30 WIB
(Setiap Senin Libur)

Informasi pemesanan tiket:
Jl.Cempaka Raya No.15 Bintaro Jaksel
Telp 021 7350460 Telp/Fax 021 7359540

Jl. Setiabudi Barat No.4 Jaksel
Telp 021 5251066 Telp/Fax 5224058; 52963603

email: teaterkomajakarta@yahoo.com � rnr@centrin.net.id
milis: teaterkomajakarta@yahoogroups.com

HTM : Rp 100.000 ; Rp 75.000 ; Rp 50.000 ; Rp 30.000

�..Leonardo Da Vinci kedua dicetak paksa,
impian menyakitkan berbuah kemustahilan ..�

Didukung oleh :
BUDI ROS, CORNELIA AGATHA, RATNA RIANTIARNO, SARI MADJID, DUDUNG HADI,
OHAN ADIPUTRA, DORIAS PRIBADI, EKO PARTITUR, TUTI HARTATI,JOKO YUWONO,
HENGKY GUNAWAN, ADRI PRASETYO, HERLINA SYARIFUDIN,YULIUS, RANGGA,
YOGI, SENA SUKARYA, SUNTEA, INA KAKA, L.YOGA.

Skenografi ONNY K.
Cahaya ISKANDAR K. LOEDIN
Busana SAMUEL WATTIMENA
Rias&rambut SENA SUKARYA
Akustik TOTOM KODRAT
Grafis SAUT IRIANTO MANIK
Konsultan Gerak LINDA KARIM
Manajer Panggung TINTON PRIANGGORO
Pimpinan Produksi RATNA RIANTIARNO

Salam hangat,
KELUARGA BESAR TEATER KOMA


Sinopsis :
Sekelompok pasien di sebuah lembaga syaraf menunjukkan beragam perilaku aneh. Meski begitu, di balik tingkah laku mereka yang tak masuk akal itu nampak samar ataupun nyata kebutuhan manusiawi yang bisa dikenali dan universal: cinta, pengakuan, dan rasa aman. Masalah-masalah mereka didiagnosa memiliki penyebab fisiologis, bukan psikologis. Dengan demikian, menurut Dr. Hopman, kepala lembaga, tak bisa disembuhkan. Tapi Dr. Dasilva, psikolog yang datang untuk mencari subyek penelitian demi memperoleh gelar PhD, punya pandangan lain.

Dr. Dasilva percaya, bisa mengajari Martin � yang menderita amnesia total, dan, kemudian, menunjukkan kemampuan luar biasa dalam belajar serta mengingat segala sesuatu � menjadi �Leonardo� baru. Manusia Renaissance abad ke-21. Tapi apa ini mewakili �kemajuan umat manusia� atau hanya sebuah pemikiran yang keliru? Ketika pasien-pasien lain mulai mengajari Martin lawakan-lawakan kasar dan Shakespeare, puisi nampaknya menyentuh sesuatu yang amat penting; perasaan inti dalam diri Martin yang belum hilang. Apakah ini jatidiri yang �sesungguhnya�, lebih dari sekadar membeo?

Tapi ajaran Dr. Dasilva memiliki kekuatan besar, yang akhirnya dia sadari dengan penuh penyesalan. Pihak militer dan politisi tertarik pada potensi Martin yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan kekuasaan. Akhirnya Martin mempelajari kekerasan semudah dia mempelajari �kebudayaan�, meski tanpa memahami maknanya. Usaha terakhir menyelamatkan Martin, dengan cara memberinya kembali �kebebasan memilih�, terlambat dilakukan. Dengan melantunkan puisi-puisi Shakespeare secara harafiah, Martin malah kian kacau. Bahkan dia samasekali tak menyadari apa yang telah dilakukannya.

Naskah ini ditulis Evald Flisar setelah berkonsultasi dengan keponakannya, seorang ahli syaraf. Sejumlah buku juga dibacanya, antara lain The Man Who Mistook his Wife for a Hat (Pria Yang Menyangka Istrinya Sebuah Topi) karya Oliver Sacks dan The Man with a Shattered World (Pria Yang Dunianya Hancur Berkeping-Keping) karya A.R. Luria. Flisar memantau sifat dasar jatidiri dan kebebasan individu dalam konteks sebuah masyarakat yang dijejali keserakahan, ambisi dan kekejaman.

Kisah ini penuh tokoh-tokoh yang menyimpan potensi luar biasa bagi kerja keaktoran. Tercatat, usai pertunjukan perdana di Slovenia, tiga aktor menerima penghargaan bergengsi.
===================================================================================

UNDANGAN DISKUSI

KENAPA LEONARDO?
(Mohon Disebarluaskan)


Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia mengadakan diskusi sehubungan dengan pertunjukan �KENAPA LEONARDO?� yang akan digelar oleh TEATER KOMA, 11-25 Januari 2008 di GBB-TIM. Diskusi ini menghadirkan EVALD FLISAR dari Slovenia sebagai pengarang dari lakon ini.


Diskusi akan dilaksanakan pada :

Hari/tanggal : Senin, 14 Januari 2008

Waktu : pukul 13.00 wib

Tempat : Gedung 4, Ruang 4101 � FIB UI

Sedikit ringkasan dalam naskah KENAPA LEONARDO? adalah pertarungan antara neurologi, psikologi dan politik. Saat hukum kasualitas tak lagi berlaku dan kita kehilangan kemampuan untuk saling menghargai, itulah kengerian bagi dunia. Jati diri setiap individu masa kini, kian dikurung oleh beragam tuntutan yang semakin sukar dipenuhi. Sementara itu, keadaan dan kondisi di sekitar, sangat tidak mendukung. Akibatnya, jiwa pun berangsur sakit. Masyarakat yang juga sakit, merupakan akibat lebih jauh. Lakon ini bisa menjadi wadah untuk mempertimbangkan, akankah terus jadi penonton, atau tersadar sejak dini? Korbankah kita atau malah kita sendiri penyebabnya?

Tidak dipungut biaya dan terbuka untuk umum.

Konteks diskusi dalam bahasa Inggris.

Salam,

Ratna Riantiarno